Gadis Manis Sore Hari I

Bila yakin t’lah tiba….

Teguh didalam jiwa

Kesabaran menjadi bunga…

Sementara waktu berlalu

Penantian tak berarti sia-sia
………dst

Lagu nasyid milik epicentrum ini mengalun dari mesin MP4 milik seorang pemuda. Ia sedang menunggu keberangkatan bus yang akan membawanya ke Pekanbaru, Riau. Perjalanan Medan-Pekan Baru akan ia tempuh selama dua hari, itupun jika dalam perjalan tidak terjadi sesuatu dengan bus tersebut.

“Bidadariku, sebentar lagi aku akan datang menjemputmu.” Begitu bisiknya dalam hati.

thettttttttttttt…..

Suara klakson terdengar sangat keras dan memekakkan telinga, tanda bus akan segera berangkat. Aziz segera ambil posisi, ia duduk tepat di belakang sopir. pikirannya campur aduk, bingung, rindu, penasaran, bahagia. Semua campur-baur menjadi satu. Dia tak dapat membayangkan kebahagiaanya ketika nanti ia bertemu putri yang selama ini ada dalam pikirannya. Sesekali ia mencari sesosok bidadari itu dalam memorynya, tapi semakin ia mencoba maka ia semakin kelihangan wajah manis itu. Entahlah………

Bersambung….

Andaikan semua Dokter Seperti Mantri Suyono

alat_suntik_imunisasi

Masih ingat kisah Suharmi dan Santi yang sempat disandera Rumah Sakit Bersalin (RSB), karena tidak sanggup membayar uang persalinan plus perawatan Rumah Sakit. sedang sang suami hanya seorang pemulung.

Dan masih banyak kisah yang serupa yang kita baca atau bahkan kita lihat. Yakni menahan sakit dalam keterbatasan biaya. Katanya yang sekarang sudah ada Askeskin, program Jamkesmas, SKTM (surat keterangan tidak mampu) yang bisa dipakai berobat gratis di puskesmas dan RSUD-pun tidak lantas menjamin rakyat miskin bisa berobat gratis dengan pelayanan yang baik. Bahkan masih sering kita dapatkan berita-berita tentang orang miskin yang kesulitan mendapatkan pengobatan. Benar saja kalau orang miskin dilarang sakit, seperti yang ditulis oleh Eko Prasetyo.

Sebenarnya aku tak ingin membahas soal penderitaan-penderitaan orang sakit yang miskin, aku hanya ingin menceritakan tentang seorang mantri yang ada dikampungku, kampung tempat bapak dan mak sekarang tinggal. Tapi sebagai pengantar itu adalah sesuatu yang maklum dan wajib ada sebagai warta bahwa pengobatan, dokter dan Rumah Sakit adalah sesuatu yang yang MAHAL.

Suyono namanya. Begitulah orang memanggil! Orangnya agak hitam, dengan postur tubuh yang ideal ditambah dengan pembawaan yang tenang, Pak Yono mampu bertahan di Desa kami, desa Kemuning.

Dia bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang mantri desa, lulusan SPK (Sekolah Pendidikan Kesehatan). Pak Yono ditugaskan didesa kami yang terpencil dan masih banyak mengandalkan pengobatan pada dukun kampung. Disinilah perjuangannya dimulai. Ditengah masyarakat awam yang membenci keberadaanya, karena dinilai akan merusak citra pengobatan ala dukun. Tapi ia tetap bertahan dan menjalankan tugasnya dengan baik.

Dia seorang mantri yang tidak hanya baik, tapi dia jujur dan tidak suka menekan pasien. kata-katanya sangat lembut dan menenangkan. Karena kesabaranya juga pola pikir masyarakat tentang kesehatan mulai berubah. Dia tidak memandang siapa yang datang berobat, miskin atau kaya, semuanya ia tangani dengan baik. Bahkan jika ada yang tak mampu bayar, pak Yono tak lantas menggratiskan (karena dia juga harus menghidupi anak dan istrinya); tapi pak Yono memberikan alternatif pada pasien tak mampu. Bisa saja dengan hutang, dengan beberapa kali cicil tanpa memberikan batasan waktu, atau mempersilahkan pasien membayar dengan apa saja yang dimiliki (semisal, ayam atau bebek dan sejenisnya). dan Pak mantri Yono ini terkenal dengan pengobatannya yang murah meriah dengan pelayanan yang prima.

Kini tahun terus berganti Kemuning telah menjadi desa yang maju, desaku juga telah memiliki dokter-dokter baru yang lebih berpendidikan. Tapi tetap saja pak mantri Yono yang menjadi idola masyarakat. Ahhh……andaikan saja para dokter seperti matri Yono? Pasti orang miskin Boleh sakit lagi? Hihihi…..

Salam Blogger.

Inspirasi Tong Sampah Dari Nazwa Kecil

11817783814ty5ie

“Bunda kak Faridah, dimana ya tong sampahnya? inyak kok ga lihat?” Begitu katanya saat ia diajak bundanya mengunjungi rumahku.

“Ada tuh dibelakang” jawabku singkat.

” Bunda kak Faridah… kata bunda kan kita harus buang sampah ditong sampah.”

“Sampah ga boleh dibuang sembarangan, nanti banjir datang….” Nazwa terus saja nyerocos tentang cara membuang sampah. meski masih berumur dua tahun, anak pasangan bunda Aya dan ayah Misra ini  ga pake cedal, artikulasinya bagus.

“Iya … inyak betul!” Seruku mengiyakan.

***

Benar saja inspirasi biasa datang dari mana saja dan dari siapa saja. Tidak terkecuali dari seorang anak kecil. Seperti Nazwa kecil ini. Dialog pendek diatas adalah dialog yang tak pernah aku lupa jika aku berhadapan dengan yang namanya sampah. Seorang Nazwa dimanapun ia berada ia akan selalu bertanya dimana tong sampah? Bahkan, bundanya sendiri sampai menyebutnya “anak tong sampah”.

Mungkin sebagian orang beranggapan “Walah dia kan masih bocah, paling nanti kalo dah gede dah enak buang sampah sembarang!” Itu anggapan yang keliru. Karena sampai saat ini Nazwa yang sudah masuk TK ini, masih saja sibuk mencari tong sampah jika ditangannya ada bungkus permen atau makanan.

Tidak hanya sampai disitu, kadangkala jika ia melihat seseorang membuang sampah sembarangan ia tidak segan-segan menegurnya. Tidak peduli apakah orang yang ada dihadapannya itu laki-laki, perempuan, baik tua ataupun muda. “Om, kok buang sampah sembarangan! Nanti banjir lo..!” Begitulah sianak tong sampah ini memarahi orang yang buang sampah tidak pada tempatnya.

Sampah akan selalu ada, selama kehidupan masih ada. Tapi saya tidak sedang membahas tentang sampah, saya membahas tentang bagaimana membuang sampah yang benar seperti yang dicontohkan Nazwa kecil.

Membuang sampah pada tempatnya, membuat lingkungan jadi bersih dan nyaman. Jadi, mari didik anak-anak kita untuk menjadi generasi yang peduli sampah, meski dimulai dari hal yang paling kecil yakni membung sampah pada tempatnya.

Salam manis dari anakdesa

Nb:

Bunda kak faridah, begitulah ia memanggilku

Inyak: Sebutang anak perempuan kesayangan pada orang aceh.

Ibuku…Kebanggaanku

Ibu. Siapa yang tak bangga akan ibunya? Kalau memang ada, mungkin akalnya sudah berkurang. Dalam episode ini (kontribusi blogger, inspirasi untuk negeri) aku akan menuliskan tentang ibuku, tidak hanya karena ia melahirkan, menyusui, dan mengasuhku dengan cermat dan teliti-penuh kasih sayang. Hal ini sangatlah lazim meski kita tak akan pernah mampu membayarnya. Mak (begitulah biasanya aku memanggil beliau) biarkan aku ukir namamu dalam tulisanku. Tidak untuk apa-apa. Aku hanya ingin orang lain tahu akan bagaimana kehebatanmu dalam memperjuangkan kehidupan kami, anak-anakmu.
Ibuku adalah seorang perempuan yang memiliki ketabahan luar biasa. Ditahun 1998, dimana krisis moneter mulai menerpa indonesia. Semua bahan pokok naik. Disinilah aku mulai merasakan bagaimana menderitanya ibuku. Dengan kondisi keuangan yang ada kadang tidak, harus menghidupi kami anak-anaknya yang masih usia sekolah. bahkan adik bungsuku masih berusia sembilan bulan. Masih sangat kecil. Ditambah nenekku yang memang sama sekali sudah tidak bisa bekerja.

Dalam kekacauan ekonomi. Mencari lembaran rupiah dengan tangannya sendiri. Sedangkan ayahku pergi tanpa pamit sejak satu setengan tahun yang lalu, entah kemana rimbanya. Seperti hilang ditelan hujan. Sedikitpun kabar tak pernah kami dengar. Apakah ayahku masih hidup atau sudah mati? Tak ada yang tahu!

Seorang perempuan desa tanpa pendidikan dan keterampilan khusus. Jadilah ibuku seorang buruh kasar di PT perkebunan kelapa sawit. Jam tiga dini hari ibuku harus sudah terjaga, disaat kebanyakan orang sedang dimabuk mimpi ibuku malah sibuk di dapur menyiapkan bekal makanan yang akan mengganjal perutnya nanti dikebun. Jam 04.00 ibuku juga harus sudah ikut berbaris rapi menanti mobil truk pengangkut para buruh dan siap berhimpitan dengan buruh-buruh lainnya.

Tidak hanya itu, ternyata ayahku menghilang dengan meninggalkan setumpuk hutang yang membuat ibuku semakin tenggelam dalam penderitaannya. Entah apa pasalnya hingga ayahku harus terbelit hutang sebegitu banyaknya. Aku tahu hal ini sejak kedatangan beberapa tamu yang tak kukenal, dari yang gemuk pendek sampai yang dari pejabat. Aku rasanya tak mampu lagi menceritakan bagaimana perasaan ibuku yang sempat merasakan tendangan dari seorang oknum TNI karena tak mampu membayar hutang yang terus berbunga.

Dalam ujian ini, ibuku juga sempat berfikir untuk menikah lagi. Tentunya dengan harapan dapat membantu mengentaskannya dari lembah hutang yang gila. Ibuku sangat bijak. Beliau mengumpulkan kami untuk dimintai pendapat “Apakah kami setuju jika ibu mencari ayah baru?’. Tapi beruntung kakak pertamaku tidak setuju, ia tak ingin posisi ayah tergantikan. Akhirnya ibukupun membatalkan niatnya menikah dengan duda beranak dua. Lagi-lagi ibuku harus sendiri dan menjadi dua pribadi, menjadi ibu sekaligus ayah bagi kami.

Aku, ibuku dan adik bungsuku di terminal Sigli,2008 lalu.

Dalam menjalani hidup yang berat itu, ibuku tak lantas gelap mata dalam mencari makan. Tidak pula ia gegabah mencari suami baru yang ia harapkan dapat meringankan beban yang ditanggungnya. Beliau begitu mencintai kami, sehingga sulit baginya untuk menggadaikan kebahagiaan kami yang walau tanpa ayah ini. Tidak seperti perempuan-perempuan (kebanyakan) sekarang, dengan enaknya kawin-cerai tanpa memperdulikan hati peri-peri kecilnya.

Berakit-rakit kehulu berenang ketepian. Mungkin pepatah ini yang dapat mewakili kisahku. Beberapa tahun kemudian ayahku pulang, melunasi semua hutang-hutangnya. Dan ayah membawa kami hijrah kepropinsi riau demi untuk mencari penghidupan yang layak lagi halal.

Sepenggal kisah ini tak pernah lekang dari ingatanku, tentang ibuku yang cantik sekaligus gagah berani. Semuanya karena ia berperan ganda. “Mak …salam takzim untukmu.”

Perempuan Insan Mulia

Mahluk hidup diciptakan berpasang-pasangan, ada laki-laki ada perempuan, ada jantan ada betina, ada kulit ada isi dan sebagainya. Namun disini aku hanya ingin membahas tentang perempuan/wanita. Bukan mengucilkan kaum lelaki dengan segala keperkasaannya, dengan kepandaiannya. Aku hanya ingin mengatakan semuanya tentang makluk Tuhan yang bernama perempuan, mahluk unik yang cantik sekaligus kejam.

perempuan

perempuan

Membahas masalah perempuan memang tiada habisnya, dari parasnya yang cantik, body yang aduhai, prilaku yang lembut nan mempesona, hingga kelakuan sang pengoda iman. Semuanya tetap menjadi issu yang hangat dan aktual. Ah perempuan!

Sebenarnya mahluk hawa ini adalah mahluk yang dimulyakan dalam islam. Ia memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki kaum lelaki, seperti mengandung dan melahirkan. Meski sekarang ini ada tehnologi mederen yang bisa membuat seorang pria menjadi hamil, tapi apakah lelaki itu bisa melahirkan. Tidak!

Jika Di masa Rasulullah, ada seorang ibu miskin membawa kedua putrinya ke hadapan Aisyah. Aisyah kemudian memberinya tiga kurma. Ibu miskin ini membagikan masing-masing satu kurma untuk anaknya dan sisanya untuk dirinya. Kedua anaknya makan dengan sangat lahap. Ketika sang ibu hendak memakan kurmanya, tiba-tiba kedua anaknya mencegahnya. Melihat kedua putrinya masih lapar, ibu miskin itu tidak memakan kurmanya dan malah membagi kurma menjadi dua bagian untuk masing-masing anaknya.

Aisyah mengadukan hal ini pada Rasulullah yang lalu bersabda, ”Barangsiapa yang ada padanya tiga orang anak perempuan dia bersabar dalam mengasuhnya, dalam susahnya dan dalam senangnya, dia akan dimasukkan Allah ke dalam surga, karena rahmat Allah terhadap anak-anak itu.”

Seorang laki-laki kemudian bertanya, ”Bagaimana kalau hanya dua, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, ”Dan berdua pun begitu juga.” Datang pula seorang laki-laki bertanya, ”Bagaimana kalau hanya satu orang?” Beliau menjawab, ”Satu orang pun begitu juga!” (HR. Al-Hakim dari Abu Hurairah).

Jadi jangan pernah jadikan anak perempuan hanya sebagai pelengkap keluarga. Jadikan ia perempuan yang utuh yang nantinya akan membawa kebaikan-kebaikan baik dunia ataupun akhirat. Namun untuk menjadikan ia perempuan utuh haruslah ada pendidikan yang layak dan seimbang, penghidupan yang baik dan tak lupa teladan akhlak yang baik pula.

Ketika perempuan menjadi diri yang utuh, ia akan menjadi cahaya bagi kehidupan. Tidak hanya keluarga saja, tetapi negarapun akan mendapat terangnya. Yah… seperti pepatah yang sering kita dengar bahwa “Perempuan adalah tiang negara. Jika perempuannya baik, negara akan baik, namun sebaliknya, jika perempuannya buruk maka buruk pulalah suatu negara”.

So, mari jadikan perempuan-perempuan disekitar kita menjadi perempuan yang baik. Walau menjadi perempuan baik harus ada dukungan dari kaum adam, tapi jangan menunggu… mulai dari sekarang untuk menjadi perempuan yang utuh (Tidak setengah laki-laki) dalam berbagai hal. Karena perempuan punya ciri khas yang tak kalah hebat dengan kaum lelaki.